Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Stella Maris Thailand Dampingi Pelaut yang Ditahan di Batam: Pelaut Bukan Kriminal, Mereka Pekerja Biasa yang Berhak atas Keadilan

Rabu, 04 Februari 2026 | Februari 04, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-04T11:05:50Z


Stella Maris Thailand menegaskan bahwa pelaut yang saat ini ditahan di Batam dalam kasus dugaan narkotika harus dipandang sebagai manusia dan pekerja biasa, bukan semata-mata sebagai tersangka kriminal. Penegasan ini disampaikan oleh Apinya Tajit, Wakil Direktur Stella Maris Thailand, berdasarkan kunjungan pastoral dan pendampingan kemanusiaan yang dilakukan bersama Stella Maris Batam.

Pendampingan tersebut merupakan hasil kerja sama lintas negara antara Stella Maris Thailand dan Stella Maris Batam, yang dipimpin oleh RP. Ansensius Guntur, CS, dalam memastikan bahwa pelaut yang ditahan tetap memperoleh perhatian pastoral, dukungan moral, serta pengakuan atas martabat kemanusiaannya.


Kasus ini bermula pada akhir tahun 2025, ketika Stella Maris menerima pesan dari seorang pelaut yang meminta bantuan untuk seorang rekan sesama pelaut yang ditangkap setelah ditemukan narkotika dalam jumlah besar di atas kapal. Pelaut tersebut kemudian dipindahkan dan ditahan di Batam, jauh dari keluarga dan tanah airnya.


Berdasarkan kronologi yang dihimpun Stella Maris, pelaut tersebut merupakan pekerja berpangkat rendah yang bertugas di kamar mesin dan pekerjaan teknis. Ia tidak memiliki kewenangan atas muatan kapal, rute pelayaran, maupun dokumen pengiriman, serta bukan pengambil keputusan di atas kapal.


Ia menerima pekerjaan dengan jaminan bahwa kontrak akan menyusul kemudian. Namun, tidak lama setelah naik ke kapal, kapal tersebut ditahan oleh otoritas hukum. Keputusannya bekerja di laut dilatarbelakangi alasan sederhana dan manusiawi: menabung untuk persalinan istrinya yang sedang hamil dan menopang kehidupan keluarganya.


Dalam wawancara, Apinya Tajit menegaskan bahwa kehadirannya di Batam bukan untuk melakukan intervensi hukum atau advokasi politik, melainkan sebagai bagian dari misi pastoral dan kemanusiaan untuk merawat pelaut yang menghadapi situasi sulit di negara asing.


“Kami tidak menghakimi bersalah atau tidaknya seseorang, dan kami tidak mencampuri proses hukum. Kami hanya berdiri di samping sesama manusia,” ujar Apinya Tajit

Ia menjelaskan bahwa pelaut yang ditahan di negara asing sering mengalami tekanan psikologis berat, rasa terisolasi, ketakutan, dan ketidakpastian. Oleh karena itu, Stella Maris Thailand bersama Stella Maris Batam melakukan kunjungan pastoral untuk mengunjungi, mendengarkan, memberi dukungan emosional dan spiritual, serta menegaskan martabat manusia bagi pelaut yang ditahan.


Stella Maris juga menyampaikan keprihatinan terhadap keluarga pelaut yang terdampak. Meskipun tidak berhubungan langsung dengan keluarga, organisasi ini memahami bahwa keluarga mengalami kecemasan mendalam, tekanan emosional, serta harapan agar proses hukum berjalan secara adil, teliti, dan manusiawi.

Apinya Tajit (tengah) bersama RP. Ansensius Guntur, CS

Dalam pesannya kepada pemerintah dan komunitas internasional, Apinya Tajit menyerukan agar penyelidikan dilakukan secara menyeluruh, profesional, adil, serta menghormati hak asasi manusia. Ia juga mengingatkan komunitas maritim bahwa pelaut sering berada pada posisi tawar yang lemah dalam rantai industri pelayaran global.


“Pelaut adalah pekerja, bukan komoditas. Di balik setiap kasus ada seorang manusia, sebuah keluarga, dan kisah hidup,” tegasnya.

Stella Maris Thailand dan Stella Maris Batam menegaskan bahwa mereka menghormati proses hukum yang berjalan di Indonesia, namun tetap berkomitmen untuk mendampingi pelaut dan keluarganya secara pastoral, serta menyuarakan prinsip bahwa pekerja tidak boleh otomatis diperlakukan sebagai kriminal.


Organisasi tersebut menutup pernyataannya dengan seruan bahwa keadilan harus dimulai dengan pengakuan atas kemanusiaan, baik bagi mereka yang berada di laut, di pelabuhan, maupun di balik tembok penjara.


Sebagai informasi, Apinya Tajit adalah Wakil Direktur Stella Maris Thailand dan telah bekerja dalam jaringan global Stella Maris sejak 2005, dengan dedikasi panjang dalam memerangi perdagangan manusia dan mendampingi pelaut serta pekerja perikanan yang tereksploitasi. Pada tahun 2022, ia menerima U.S. Department of State Trafficking in Persons (TIP) Hero Award atas kontribusinya dalam membantu ratusan pekerja maritim dari berbagai negara, termasuk Thailand, Indonesia, Kamboja, Myanmar, dan Bangladesh, serta upayanya dalam edukasi pencegahan perdagangan anak kepada ribuan pelajar di Thailand.*

×
Berita Terbaru Update