Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Stella Maris Batam Hadirkan Jessica Sparks dari Tufts University Bahas Perlindungan Pekerja Maritim

Minggu, 30 Agustus 2026 | Agustus 30, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-30T12:02:16Z

Jessica Sparks, Tufts University

Peneliti asal Amerika Serikat akan membahas kondisi kerja, forced labor dan perlindungan pekerja migran dalam Seminar Internasional Stella Maris Batam

Persoalan pekerja migran di sektor perikanan tidak hanya berkaitan dengan kesempatan kerja dan pendapatan. Di balik rantai pasok makanan laut global, terdapat para pekerja yang menghadapi kondisi kerja berat, keterpisahan dari keluarga, serta risiko pelanggaran hak dan eksploitasi.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Dr. Jessica Sparks, akademisi dan peneliti dari Tufts University, Boston, Amerika Serikat, yang akan hadir sebagai salah satu narasumber dalam Seminar Internasional dan Misa Minggu Migran dan Pengungsi Sedunia 2026 yang diselenggarakan Stella Maris Batam. Kegiatan akan berlangsung pada Minggu, 20 September 2026 di Pacific Palace Hotel, Batam, dengan tema:“Dari Kerentanan Menuju Martabat: Mewujudkan Migrasi yang Aman dan Teratur.”

Jessica Sparks merupakan Assistant Professor pada Division of Agriculture, Food and Environment, Friedman School of Nutrition Science and Policy, Tufts University. Penelitiannya berfokus pada hubungan antara perubahan lingkungan, kondisi kerja, dan keberlanjutan sistem pangan, termasuk persoalan decent work, forced labor, human trafficking, dan modern slavery.

Meneliti kondisi kerja nelayan migran


Kehadiran Jessica dalam seminar Stella Maris memiliki relevansi khusus karena sebagian besar risetnya berkaitan dengan marine capture fisheries dan seafood supply chains.

Tufts mencatat bahwa salah satu proyek penelitiannya melakukan analisis global terhadap kondisi kerja di sektor perikanan dengan menggunakan dataset yang dibangun dari lebih dari 2.000 survei dengan nelayan. Ia juga mengembangkan kerangka living wage bagi pekerja migran dalam rantai nilai seafood global serta meneliti risiko kerja paksa dalam sistem pangan.

Dalam kajiannya, Sparks melihat persoalan pekerja perikanan tidak dapat dilepaskan dari hubungan antara lingkungan, ekonomi, rantai pasok global dan hak-hak pekerja. Penelitiannya juga mengangkat persoalan forced labor dan modern slavery di industri perikanan, termasuk bagaimana tekanan ekonomi dan persoalan keberlanjutan perikanan dapat berkaitan dengan munculnya praktik eksploitasi terhadap pekerja. Tufts sebelumnya menyoroti penelitian Sparks mengenai keterkaitan antara penurunan stok ikan dan penggunaan kerja paksa di laut.

Migrant fisher: pekerja yang sering tidak terlihat


Salah satu perhatian penting dalam penelitian Sparks adalah posisi migrant fishers yang bekerja melintasi wilayah dan negara. Dalam proyek yang melibatkan Taiwan dan Filipina, Sparks meneliti peran port chaplains dan intervensi mereka dalam menghadapi trafficking serta pelanggaran ketenagakerjaan terhadap pekerja migran di kapal perikanan. Tufts menyebut pekerja migran di sektor perikanan sebagai salah satu kelompok yang sangat tersembunyi karena adanya celah regulasi yang dapat membuat mereka kesulitan mengakses perlindungan ketenagakerjaan maupun mekanisme pemulihan ketika hak mereka dilanggar.

Kehadiran Jessica Sparks di Batam diharapkan dapat membawa perspektif akademik dan pengalaman penelitian internasional ke dalam diskusi mengenai tata kelola pekerja maritim Indonesia.*
×
Berita Terbaru Update